.

Label

Edukasi (1) Softskill (24) Teknologi (1) tulisan (5)

Laman

Sabtu, 11 Oktober 2014

Efek Urbanisasi Terhadap Kehidupan Masyarakat Perkotaan

Efek urbanisasi terhadap kehidupan masyarakat perkotaan


            Pekerjaan adalah aspek utama dalam kehidupan, banyak orang yang beralasan berpindah dari desa ke kota hanya untuk mencari pekerjaan, padahal di kota mencari pekerjaan sangan sulit, apabila dia tetap tinggal di desa dan mulai memikirkan ide bagaimana membuat usaha di desa tersebut pasti keadaan dan kondisi kota tidak akan penuh dan padat seperti saat ini. Memang tidak salah apabila penduduk berpindah dari desa ke kota tapi alangkah lebih baik jika penduduk desa dapat sukses di desanya untuk membanganu desa menjadi lebih maju lagi. Bukan hanya sekadar isu bahwa tak jarang penduduk desa yang pindah kekota pada akhirnya menjadi gembel dan meminta minta di lampu merah karena tidak sanggup bersaing dengan saingan-saingan yang kuat di kota. Apabila hendak inin pergi ke kota sebaiknya pikirkan dulu yang matang matang agar semua rencana dan target untuk sukses di kota dapat tercapai, tak jarang banyak orang bermodalkan “nekad” padahal dengan berasumsi denmikian hanya memperkeruh suasana kota dan kendali manusia yang ada di kota. Sumber daya manusia yang tinggal di desa tidak perlu diragukan, malah mereka yang tinggal di desa bisa lebih mendapatkan pengetahuan dan ide untuk merancang pembangunan di desanya.
            Perpindahan penduduk dari desa ke kota pasti memiliki dampak terhadap kehidupan di perkotaan. Seperti tingkat jumlah populasi warga kota yang meningkat tajam, campuran budaya bahasa, moral dan sosial, kemudian dampak berikutnya adalah efek sosial yang timbul dari masyarakat kota itu tersendiri. MAsyarakat kota itu sendiri mersa keadaan kota yang dia tempati menjadi tidak nyaman lagi karena banyak efek yang ditimbulkan, yaitu kemacetan. Kemacetan di kota disebabkan oleh membludaknya arus urbanisasi yang terjadi pad setiap tahunnya apalagi setelah lebaran, efek urbanisasi akan terasa sangat nyata, kemudian efek selanjutnya adalah campuran budaya sosial. Campuran budaya sosial di sini berarti hilangnya budaya masyarakat lokoal yang tersingkir akibat arus urbanisasi, seperti jarangnya menemukan orang jakarta yang pandai berbahasa betawai. Malah kebanyakan mempelajari bahasa lainnya seperti bahsa jawa, sunda, batak, dan bahkan bahasa padang.
            Efek berikutnya adalah hilangnya jati diri masyarakat perkotaan, kenapa demikian? Karena banyaknya budaya daerah yang masuk sehingga budaya yang asli ikut luntur bebarengan dengan adanya arus urbanisasi, terlihat dari upacara upacara adat yang dilakukan di jakarta hanya sedikit yang menggunakan adat betawi, selebihnya menggunakan adat daerah lain.
            Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi, hal ini menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya. Dampak urbanisasi terhadap kehidupan di perkotaan adalah :
·         Munculnya kawasan kumuh (slum area) yang bisa menghambat perkembangan kota dan menurunkan nilai estetika dari kota itu sendiri.
·         Menaikkan tingkat polusi udara di daerah perkotaan.
·         Tingkat kriminalitas meninggi, dan menghilangkan tingkat kenyamanan    bagi penduduk sekitar ; dan
·         Angka penggangguran semakin tinggi. 


Perbincangan mengenai akibat urbanisasi bagi masyarakat desa, selama ini lebih banyak mengungkapkan pada aspek sosial ekonomi, sementara sorotan terhadap aspek sosial budaya dirasakan masih kurang. Pada hal sebagaimana dinyatakan beberapa ahli seperti bahwa mobilitas penduduk memegang peranan penting dalam perubahan sosial-budaya dengan cara membawa ma-syarakat dari kehidupan tradisional ke sua-sana dan cara hidup modern yang dibawa dari luar. Perubahan tersebut termasuk per-geseran nilai dan norma serta jaringan dan pola hubungan kekerabatan di pedesaan.
Sebenarnya tidaklah mudah mengemukakan perubahan yang terjadi pada aspek sosial budaya ini, karena tidak begitu nampak secara nyata seperti halnya pada perubahan sosial ekonomi. Sehingga untuk mengetahuinya diperlukan pengamatan yang agak intensif dan wawancara mendalam dengan beberapa tokoh masyarakat yang benar-benar menguasai pemasalahan. Bebe-rapa perubahan dalam aspek sosial budaya antara lain tersebut di bawah ini.
Pertama, perubahan yang paling nampak dalam aspek sosial budaya adalah dalam bidang pendidikan. Bila pada tahun 1970-an kebanyakan orang tua hanya menyekolahkan hingga tamat SD, dan sangat sedikit yang menyekolahkan hingga sekolah lanjutan, kini sebagian besar telah menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang sekolah lanjutan atas, bahkan hingga perguruan tinggi. Di desa , tidaklah aneh bila orang tuanya   bekerja di kota sebagai pedagang bakso, sementara anaknya kuliah di perguruan tinggi. Tanpa mengabaikan pengaruh variabel lain, misalnya fasilitas pendidikan yang semakin banyak hingga ke pelosok desa, urbanisasi berdampak pada peningkatan kesadaran menyekolahkan anak, wawasan dan pemikiran semakin terbuka setelah ba-nyak berhubungan dengan masyarakat luar, dan melihat perkembangan pembangunan yang terjadi di tempat lain. Apalagi kesadaran ini semakin ditunjang peningkatan pendapatan sehingga mereka mampu membiayai pendidikan anaknya.
Kedua, urbanisasi juga berdampak pada perubahan peranan dan tanggung jawab wanita. Kenyataan ini terutama nampak pada wanita yang ditinggal suaminya bekerja di kota, mereka harus bertindak sebagai kepala rumah tangga selama suaminya tidak ada di rumah. Wanita tidak hanya bertanggung jawab atas kegiatan di dalam rumah tangga, tetapi juga harus melakukan kegiatan kemasyarakatan atas nama suami.  Secara tidak langsung mengubah kebiasaan menempat-kan kaum wanita hanya sebagai ibu rumah tangga serta berurusan dengan kegiatan wanita saja. Sebagaimana program pemerintah yang menuntut kaum wanita untuk turut serta dalam kegiatan di luar rumah tangga.
Ketiga, dampak urbanisasi juga terlihat pada kelembagaan keluarga, khususnya dalam sistem perkawinan, di mana sekarang ini orang tua tidak lagi dominan dalam menentukan pilihan jodoh bagi anaknya. Banyak di antara pemuda-pemudinya yang memperoleh pasangan hidup dari luar daerah atas dasar pilihannya sendiri, dan kebanyakan jodohnya tersebut diperoleh di kota tempat mereka bekerja. Dampak lain adalah semakin meningkatnya usia perka-winan. Kalau pada tahun 1970-an anak gadis yang belum berumur 18 tahun sudah di-nikahkan, kini umur kawin telah meningkat dan cenderung “diprogram” oleh mereka sendiri.
Keempat, urbanisasi memberikan pengaruh pada meluasnya kerangka pemi-kiran penduduk desa serta mengubah perilaku masyarakat dari orientasi sosial ke orientasi komersial. Dalam hal ini telah terjadi perubahan apresiasi nilai uang pada seluruh warga desa, atau dengan kata lain meminjam istilah beberapa ahli, di desa tersebut telah terjadi monetisasi dan komersialisasi aktivitas yang semula bersifat sosial. Kegiatan gotong-royong yang selama ini dipandang merupakan aktivitas luhur yang kita banggakan kini semakin luntur. Contoh nyata dalam hal ini adalah bahwa dewasa ini kegiatan memperbaiki rumah, membangun pagar, membuat sumur, dan kegiatan-kegiatan lain di sekitar rumah tangga sekarang tidak lagi dilakukan dengan cara sambatan atau tolong-menolong antar tetangga, melainkan dilakukan dengan membayar tenaga tukang.
Kelima, dari segi hubungan kekerabatan, urbanisasi sering diasosiasikan dengan melemahnya atau longgar-nya hubungan kekerabatan. Dengan kata lain, makin meningkat kegiatan mobilitas penduduk akan semakin melonggarkan ke-terikatan mereka dengan kehidupan pen-duduk setempat. Lemahnya hubungan keke-rabatan sebenarnya tergantung dari persepsi yang diberikan. Secara fisik, memang kepergian mereka ke luar desa mengaki-batkan semakin berkurangnya kesempatan mereka untuk mengikuti acara atau peris-tiwa sosial di desa. Tetapi secara batiniah hubungan dan ikatan dengan daerah asal itu ada beragam perilaku. Ada yang memang merasa masih memiliki ikatan kuat dengan kerabatnya di desa. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku kepulangan mereka setiap saat ke desa asal. Tetapi ada pula yang sudah mulai “ogah-ogahan” pulang ke desa, dan dengan demikian ikatan kekerabatan juga sudah melonggar.
Keenam, secara sosial, urbanisasi akan berpengaruh pada kesejahteraan ke-luarga migran yang bersangkutan. Hal ini berkait dengan kehidupan keluarga mereka yang terpaksa harus hidup terpisah sampai jangka waktu yang tidak diketahui batasnya. Sekalipun mereka pada waktu-waktu ter-tentu pulang ke desa, namun kese-jahteraan keluarga akan lebih terjamin bila mereka selalu berkumpul dalam satu rumah. Namun demikian, hal ini nampaknya tidak terlalu dirisaukan oleh orang desa, sebagai masyarakat desa yang biasa hidup sub-sistensi, nampaknya pemenuhan kebutuhan ekonomi lebih mendominasi pemikiran mereka dalam soal kesejahteraan hidupnya.
Ketujuh, orang-orang “sukses” di kota ini dapat menumbuhkan kemampuan dan keinginan untuk berkompetisi atau bersaing. Dari sisi positif kompetisi dan persaingan ini akan sehat dan baik apabila mendorong mereka terpacu dan semakin giat bekerja, sehingga keberhasilan ini akan semakin dapat dirasakan penduduk desa. Di sisi lain kompetisi dan persaingan ini akan menjadi tidak sehat karena membuahkan perilaku budaya baru yang disebut dengan budaya “pamer” dengan menggunakan ke-kuatan ekonomi. Karena budaya “pamer” ini tidak sesuai dengan budaya Jawa yang berusaha untuk konform dengan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, orang mencari penga-kuan dan kehormatan melalui kekayaannya.
Kedelapan, pengaruh urbanisasi juga nampak pada kebiasaan berpakaian dan makan. Perubahan dalam hal berpakaian tidak semata-mata karena evolusi alamiah, melainkan juga karena ada kontak dengan dunia luar atau ada pihak yang memper-kenalkan. Media massa dan iklan dapat mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berpakaian dan makan, tetapi dampaknya tidak akan efektif apabila tidak ada orang yang memberikan contoh nyata dalam kesehariannya. Setelah melihat cara-cara baru berpakaian dan mengenal macam-macam makanan modern sekembalinya ke desa diperlihatkan kepada orang-orang desa.
Kesembilan, perubahan juga nampak pada pergaulan remaja, serta interaksi antara generasi muda dengan orang tua. Dari sisi positif, urbanisasi mendorong penduduk untuk memperluas pergaulan dan penga-laman, dengan akibat lebih lanjut pada keinginan mereka untuk meningkatkan ke-mampuan diri. Sedangkan di pihak lain sebagian remaja yang pergi ke kota mem-bawa kebiasaan baru yang bersifat negatif yang diperolehnya di kota seperti minum-minuman yang mengandung alkohol, ber-judi. Dampak negatif yang lain adalah mulai berkurangnya penghormatan terhadap orang tua. Memang hanya sedikit warga Desa yang melakukan kegiatan negatif semacam itu, meskipun demikian perilakunya dapat mengganggu kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal interaksi antara generasi muda dengn orang tua seringkali ditemui adanya kesenjangan, baik dalam hal nilai, norma dan berakibat pada perilaku kesehariannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar