.

Label

Edukasi (1) Softskill (24) Teknologi (1) tulisan (5)

Laman

Rabu, 08 Januari 2014

TUGAS IBD KE-4 ( MANUSIA PUTUS ASA KARENA KESEDIHANNYA).



KATA PENGANTAR

          Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar yang memiliki bahasan pokok mengenai “Perbandingan kasus terhadadap mata kuliah Ilmu Budaya Dasar”.
            Adapun  maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan dan menyelesaikan materi mengenai pembahasan tentang manusia dan kegundahan. Apa yang menyebabkan seorang manusia bissa putus asa dan gampang menyerah?, dalam makalah ini akan saya uraikan agar manusia menjadi lebih tegar dan kuat sehingga tidak akan mudah putus asa.
            Dalam tulisan ini mampu membangkitkan kesadaran akan mengenai pentingnya budaya kekuatan hati serta menghilangkan kebiasan kebiasaan yang buruk. Tanpa melihat status dan kepentingan budaya diharapkan tugas sekaligus tulisan ini mampu menarik banyak pembaca untuk menemukan isi dari tulisan yang akan disajikan.






Depok, 08 januari 2014
                                                                                                                               Penulis

                                                                                                                            Punto Adi Pradana



1.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Manusia dengan keputus asaannya membuat tubuh dan jiwanya hancur, tak terpikirkan bahwa masih ada kesempatan lain atau pintu pintu lain agar tidak jatuh kedalam jurang hitam(sikap menyerah), sejatinya manusia adalah makhluk nyang memiliki kekuatan akan iman dan jasmani. Jangan menganggap apa yang belum bisa didapatkan menjadi beban anda di keudian hari, biarlah maslah atau harapan anda yang belum bisa terealisasikan menjadi indah pada waktunya. Putus asa bukanlah jalan, namun jalan adalah melawan keputus asaan. Apa yang mempengaruhi seorang manusia itu dalam bertindak? , yaitu semngat. Tanpa semngat manusia akan lemah, hilang bentuk, dan tidak menjadi makhluk yang siap menerima keadaan. Semngat di sini berarti bertindak dengan kelebihan keyakinan untuk melawan sifat keputus asaan.
            Janganlah meletakan bola dunia di atas kepala, anda tidak sedang berperang dengan dunia, tetapi anda berperang dengan diri anda sendiri untuk melawan putus asa yang senantiasa muncul. Dengan sabar itu menjadi indah dan tentram, Bersabarlah untuk hasil yang lebih baik, apakah ada solusi selain sabar? Apakah ada senjata lain selain sabar? Sabar itu indah dibandingkan dengan kegundahan yang akhirnya menyerah tanpa syarat. Biasa disebut kalah sebelum berperang. Agar kita tidak mudah putus asa sebaik kita mengambil sedikit untaian kalimat seperti “ Ambil Madunya Tapi Bukan Sarangnya” . itu mengartikan agar kita tidak melihat sisi negatifnya tapi kita melihat sisi positif yang masih dapat kita lakukan dibandingkan dengan menyerah kemudian putus asa.
            Jadikan buah lemon itu minuman yang manis, seperti dunia jangan dilihat beban dan tantangannya, tapi lihatlah kebahagian dan kepuasan yang kita dapat selama hidup di dunia. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah, dan sebaik baiknya tindakan adalah melakukannya dengan sabar dan lapang dada
B.Definisi
      - Manusia
   Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan yang ada di dunia, selain alam tumbuhan dan binatang. Makhluk tuhan memiliki berbagai sifat sebagai berikut :
                   I.            Alam memiliki sifat wujud
                II.            Tumbuhan memiliki sifat wujud dan hidup.
             III.            Binatang memiliki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu.
             IV.            Sedangkan manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu , dan yang istimewa adalah di berikan akal budi

Manusia memiliki kelebihan diantara ciptaan Tuhan lainnya yaitu terletak pada akal budi, yakni sebagai potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.Namun ada juga manusia manusia yang dungu yaitu orang orang yang suka membuat bid’ah. Bisa dikatakan manusia merupakan orang yang bodoh. Dan ada juga manusia yang memiliki tabiat kasar, memiliki kecenderungan yang menyimpang, dan dingin dengan tingkah laku.
Manusia yang tidak bisa memanfaatkan akal budinya untuk kebaikan tidak bisa diajak bicara dari hati ke hati dan tidak mempunyai nilai keutamaan , tidak mempunyai tujuan tujuan yang jauh ke depan ,  selalu memperturutkan keinginan nafsunya, dan tunduk pada kesenangannya saja.
Tidak semua manusia di dunia ini orang yang jenius dan cerdik meniti perjalanan hidup mereka dengan penuh kegigihan, karena mereka sadar akan kekurangan yang ada pada mereka.
Manusia telah diberikan kehidupan oleh Tuhan yang merupakan sesuatu yang sangat berharga. Kemudian tinggal seorang manusia bagaimana menjalani kehidupannya. Manusia tidak mempunyai kuasa atas datangnya hal hal yang tidak diinginkan, tapi manusia lah yang berkuasa untuk menghadapinya.
Sebenarnya manusia memliki kekuatan yang hebat dibandingkan makhluk ciptaan tuhan lainnya, dengan perpaduan iman,usaha,dan kepasrahan yang kuat. Manusia dapat menggerakan gunung sekalipun.
Manusia merupan makhluk social yang tidak pernah lepas dari ketergantungan pada makhluk dan situasi di sekitarnya, namun manusia yang memiliki sifat sombong sebenarnya dia telah mati karena dia sering menganggap semua hal yang disekelilingnya ini merupakan hal yang tidak ia hiraukan.
Padahal manusia memiliki banyak sekali ragam dan banyak sekali sifat dan kepribadian. Namun seua itu bias berjalan dengan baik di muka bumi ini karena manusia memiliki akal yang mereka gunakan untuk bertahan hidup. Manusia purba contohnya, cara mereka untuk bertahan hidup berbeda sekali dengan manusia modern saat ini, manusia purba cenderung memikirkan bagaimana hari ini kita bisa mendapatkan makan untuk beberapa hari ke depan dan  bertahan dari kerasnya alam yang buas. Namun manusia modern saat ini lebih berpikir secara materi bagaimana bias menguasai bumi dengan satu genggaman tangan. Itu karena setiap peradaban manusia memiliki kemajuan akal yang luar biasa. Yang bias membuat dunia berubah menjadi wujud yang berbeda dengan waktu lampau. Dengan akal manusia ,dunia yan tadinya gelap pada malam hari kini menjadi indah dan terang dengan pancaran sinar lampu yang cantik dan indah.
Selain akal manusia juga mempunyai hubungan emosional dengan manuisa lainnya, ini yang menyebabkan sering terjadinya pertumpahan darah di bumi ini, padahal sang Pencipta mengajarkan untuk menjungjung kedamaian. Tapi apa manusia tidak henti hentinya untuk berperang, ada saja masalah yang diributkan dan di perebutkan, padahal manusia hidup di dunia ini hanya sementara atau hanya sebagai perlintasan ruh saja. Manusia merupakan makhluk yang mengerikan dengan akal dan emosional mereka.
Kehidupan manusia akan terus berkembang setiap jaman , karena manussia memiliki sifat perkembang biak , akan ada penerus dari generasi manusia yang telah meningalkan dunia. Manusia itu makhluk yang kuat tapi lemah. Iya..! mereka memiliki akal yang luar biasa tapi seringkali salah dalam menggunakannya.



- Putus asa dan Kesedihan
      Jika menganggap sesuatu yang kurang itu hina, maka anda menghina ciptaan-Nya. Nilai manusia sebenarnya adalah bakat bakat yang terpuruk dan dan sifat sifat yang mulia.Kebahagian tidak terdapat dalam kekayaan yang melimpah ruah. Kebahagian tidak pula di istana yang demikian megah. Tidak juga pada emas dan harta. Namun kebahagiaan itu ada di dalam hati dengan keikhlasan yang menangkis semua kesedihan dan putus asa.
      Kematian pasti akan datang kepada setiap orang. Entah dia berbahagia atau tidak, yang kuat atau pun yang lemah. Maka dari itu percumalah untuk beputus asa dan menyerah. Keputusasaan adalah kondisi dimana tidak ditemukannya lagi keimanan terhadap keyakinan diri bahwa dia masih mampu untuk merubah semua yang telah terjadi dengan jalan yang diyunjukkan dan diberi arah oleh yang maha kuasa.
      Sedangkan kesedihan memiliki arti yang lebih sakit dari kekecewaan dimana seseorang meresa tidak ada manfaatnya dan merasa terbunuh oleh tindakan yang menyakiti hatinya. Seekor unta berjalan dengan empat kaki, itulah yang diibaratkan, kesedihan dan keputusasaan sama seperti saat unta berjalan. Ketika dia mulai haus unta akan berhenti untuk minum sejenak, saama dengan kesedihan, dia harus memulihkan terlebih dahulu kesedihannya dengan menyenangkan hati bagaimanapun caranya.



C.Hubungan antara Kesedihan Manusia serta Putus asa
      Orang yang terbiasa menempatkan dirinya dalam kesedihan akan tetap berada dalam kesedihan, walaupun sedang tidur di atas butiran salju. Masing masing diantara mereka menginginkan bisa mendapatkan ketenangan dan mencapai apa yang diinginkan. Banyak orang yang kehilangan makna kehidupan di dunia, mereka menyangka bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik dan telah mendapatkan kebahagian, padahal mereka gagal mendapatkan apa yang terbaik untuk dirinya untuk mengobati kesedihannya. Bertolak belakang dengan keindahan, kesedihan merupakan suatu ungkapan emosi yang ditandai dengan perasaan kehilangan dan perasaan ketidak berdayaan. Banyak factor yang mempengaruhi adanya kesedihan, misalnya saja seorang anak yang dimarahi oleh orang tuanyakarena berbuat nakal, atau karena ditinggal oleh pasangannya. Menurut saya kesedihan itu timbul karena ketidak siapan kita untuk menerima sesuatu diluar dugaan, atau bias juga karena ketidak mampuan mengontrol emosi.

Manusia dan kesedihan memiliki keterkaitan yang erat, bahkan  hal itu terjadi karena kehidupan manusia itu bagai roda yang diputar, terkadang kita berada diatas dan kadang juga kita berada dibawah, semua kembali pada diri kita sendiri bagaimana menyikapinya. Manusia merasakan kesedihan itu wajar, karena dalam kehidupan ini tidak ada yang sempurna, bahkan Allah SWT menguji keimanan kita dengan memberi cobaan, cobaan ini tidak hanya kesedihan tapi juga kesenangan, semua kembali lagi pada cara kita menyikapinya.



D.Kesimpulan
        Satu hal yang perlu kita ingat bahwa kita jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan, karena hanya akan merugikan diri kita sendiri, bila mnegalami kesedihan segeralah bangkit dan introspeksi diri, tapi perlu diingat juga bahwa intropeksi yang dimaksud diperuntukan untuk memperbaikinya bukan untuk terus disesali.

Jika kita melihat ada seseorang yang mengalami kesedihan, maka kewajiban kita untuk menghiburnya. Jangan sampai kita bersenang-senang diatas penderitaanorang lain, karena hal ini merupakan tindakan yang tidak terpuji.
Untuk mengatasi kesedihan, kita harus terus berdoa pada yang maha kuasa untuk diberi kekuatan agar kita tidak menjadi orang yang berputus asa, jangan lupa kita harus introspeksi diri, jangan hanya menyalahkan orang lain, dan juga kita harus berusaha untuk memperbaikinya.

 bahwa manusia dan kesedihan tidak bisa dipisahkan, yang bias kita lakukan hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang pada akhirnya akan kita sesali dan menimbulkan kesedihan dalam diri kita, dan jika hal itu terjadi janganlah kita berputus asa.


Sekian yang dapat saya tulis, untuk partisipasi dan memperbaiki penulisan ini saya mengharapkan adanya komentar dan saran terhadap tulisan saya.

Selasa, 07 Januari 2014

PENGARUH BUDAYA TERHADAP SENI PATUNG



KATA PENGANTAR

          Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar yang memiliki bahasan pokok mengenai “Perbandingan kasus terhadadap mata kuliah Ilmu Budaya Dasar”.
            Adapun  maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan dan menyelesaikan materi mengenai pembahasan tentang Mempelajari kasus kasus yang terjadi di masyarakat.
            Dalam tulisan ini mampu membangkitkan kesadaran akan mengenai pentingnya aneka budaya yang ada di masyarakat dan kebiasan kebiasaannya. Tanpa melihat status dan kepentingan budaya diharapkan tugas sekaligus tulisan ini mampu menarik banyak pembaca untuk menemukan isi dari tulisan yang akan disajikan.






Depok, 24 November 2013
                                                                                                                               Penulis

                                                                                                                            Punto Adi Pradana









BAB 1
1.PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
            Adanya keanekaragaman budaya membuat kecirikhassan setiap daerah berbeda beda. Saya akan membahas mengenai arti budaya dan patung patung maupun relief relief yang sudah beredar di masyarakat pada umumnya. Setiap kali manusia berjalan pastilah membutuhkan pembelajaran terlebih dahulu, tidak mungkin sebuah patung dibuat tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Pastilah ada maksud dan tujuan yang tersirat dari adanya nilai nilai magis dalam pembuatan patung. Banyak seringkali patung yang sudah terbuat tidak tahu siapa yang membuatnya , tapi dengan karya orang tersebut seni patung sekian lama terus menambah indah dan mempunyai cerita tersendiri. Fungsi patung memiliki beragam variasi seperti memperindah ruangan maupun tempat, menegaskan cerita jaman kuno, bahkan sebagai objek pemujaan yang tidak diketahui apa manfaatnya
1.2 Latar Belakang
            Mula mula bentuk patung dari hal sederhana seperti bentuk persegi , lingkaran dan oval, namun seiring perkembangan zaman patung mengalami perubahan yang signifikan dalam pembuatannya, kini patung sudah tersedia dalam bentuk manusia dengan berbagai type dan desain dan bentuk binatang yang memiliki cerita magis tersendiri, sepertinya pengaruh pembuatan patung tertular dari agama Buddha dan hindu . melihat dari arsitektur tempat peribadatan kedua agama tersebut terlihat banyak patung patung dan relief yang seakan akan mengartikan sesuatu. Tak lepas dariitu kepercayaan masyaraka terhadap paham dinamisme membuat benda menjadi bahan persembahan yang agung. Dengan kaata lain patung sebagai benda mati menjadi objek penyembahan. Entah terpengaruh oleh budaya apakah yang membuat masyarakat dapat memuja sebuah patung yang tidak memiliki kekuatan apapun.





BAB 2
2. Patung dan Kebudayaan
     2.1.Unsur patung dalam Budaya
      Patung atau Benda hias yang biasa dilihat memiliki beberapa unsure tersendiri, yaitu unsure magis, keindahan, dan unsure seni.
      Unsur magis yaitu dimana patung dianggap sebagai benda sacral untuk pemujaan yang tidak ada habisnya, setiap sekte biasanya memiliki simbolm patung yang bervariasi, ketika ditanya apa kehebatan patung tersebut mereka menjawab itu hanyalah jelmaan dari yang punya kuasa, entah apa arti dari jawaban mereka yang pasti setiap patung yang terbentuk tidak memiliki kehebatan apapun itu hanyalah sebuah benda mati yang tidak bisa melakukan apappun.
Tanpa adanya kendali patung bisa bisa dijadikan sarana untuk menjadi sesat dan kafir, padahal nabi telah melarang untuk menyembah berhala dari jaman jahiliyah silam, betapa hebatnya pengaruh sebuah patung di dunia , setiap daerah biasanya mempunyai bentuk patung tersendiri yang mengibar5atkan itu adalah jati diri daerah tersebut, padahal saying sekali apabila patung dijadikan sebagai alat persembahan , patung itukan hanyala sebuah seni tiga dimensi yang memperhatikan bentuk dan keindahaannya saja, bukan patung yang harus disalahkan dalam hal ini, tetapi manusianya lah yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah beredar di masyarakat umum.
      Kemudian patung sebgai unsure keindahan budaya, patung sebagai pemanis sekaligus sebagai alat tambahan desain untuk eksterior maupun interior, setiap budaya dan setiap zaman dapat dilihat dari seni patungnya yang dihasilkan, terlihat  patung patung zaman dahulu tidak begitu bagus seperti zaman sekarang. Bisa jadi karena patung tercipta untuk mengkritik maupun untuk memperingati hari besar, contohnya adalah patung tugu tani yang ada di Jakarta , patung tersebut mengisyarakatkan agar kita sebagai manusia tidalak harus terus membangun gedung gedung tinggi yang mencakar langit tapi juga memikirkan pertanian sebagai suber pangan manusia, dan keudian monas, monas awalnya adalah bangunan tertinggi di Jakarta , monas bertujuan untuk membuktikan simbolisasi Indonesia khususnya Jakarta, namun patung singa yang berada di negara singapura itu memiliki arti tersendiri. Budaya manusia yang ingin terus tampil baik membuat patung patung hasil karya manusia menjadi bagus bagus bentuk dan keindahannya, patung adalah hasil karaya rasa cipta manusia yang diwujudkan untuk sebagai sarana terapan dan keindahan dalam seni. Namun banyak yang menggap patung tidak terlalu ada kaitannya dengan budaya, bahkan budaya bisa terekam melalui adanya patung patung patung, contohnya adalah patung patung atau relief yang berada pada candi Borobudur , dengan mengetahui rel.ief dan patung tersebut kita menjadi tahu apa yang melatarbelakangi pembuataan bangunan bersejarah itu melalui relief yang terters di dinding bagunan dan patung patung yang berjejer di atas candi.
    Menurut Koentjaraningrat (1990:203-204) setiap kebudayaan suku bangsa di dunia memiliki  tujuh unsur kebudayaan yang universal yaitu: 1) bahasa, 2) Sistem pengetahuan 3) organisasi sosial, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem matapencaharian hidup 6) sistem religi, 7) kesenian.  Kesenian adalah merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang universal tersebut, oleh karena itu seni atau kesenian merupakan produk dari sebuah kebudayaan dari setiap suku atau bangsa di dunia. Untuk itu memahami sebuah fenomena kesenian atau seni tidak bisa dipisah-kan dari latar belakang di mana seni itu lahir.
Untuk dapat mengerti menyelami dan menilai usaha karya seni dari sesuatu bangsa dengan seksama, tidaklah cukup hanya menganalisa bentuk-bentuk karya seninya saja, kesusastraannya, seni suaranya, tari-tariannya dan seni rupanya. Pemahaman terhadap gaya hidup, keyakinan kepercayaan dan struktur penghidupan dan kehidupan dari suatu masyarakat adalah sendi-sendi yang sangat penting dalam penuangan bentuk karya seninya dan dengan demiki-an  dianggap sangat perlu untuk diselami dengan penuh simpati dan secara tertib untuk dapat mengadakan interpretasi dan peninjau-an yang tepat (Murdowo, 1967:18).
Bali  salah satu dari suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristik seni dan budaya yang menarik. Oleh karena itu Bali tetap menarik bagi wisatawan mancanegara untuk dikunjungi untuk melihat kepaduan estetika budaya yang diilhami oleh sebuah frame yaitu religiusitas Hinduisme. Berdasarkan hal tersebut Bali terkenal dengan berbagai julukan seperti Pulau Sorga, Paradise created, Pulau seribu pura, Pulau Pariwisata dan lain sebagainya. Berbicara mengenai seni di Bali, karena hubungan agama Hindu dengan seni tak dapat dipisahkan, hal itu dapat menumbuhkan rasa seni yang sangat mendalam dalam masyarakat dalam berbagai bidang, ter-utama dalam bidang seni pahat, seni gamelan, seni lukis, seni tari, seni hias, seni patung dan lain-lain (Mantra,1991:5).
Hal ini dipertegas lagi oleh   I Gusti Bagus Sugriwa (1952:22) bahwa kesenian Bali atau seni budaya suku Bali-Hindu yang hidup bergolak sampai sekarang, pada hakikatnya adalah anak atau cabang ranting dari agama Hindu Bali. Kesenian dengan agama ini mempunyai hubungan yang amat erat pada umumnya tidak dapat dipisahkan satu sama lainya. Tegasnya jika agama Hindu Bali itu musnah dari nusa Bali ini, tak dapat dipungkiri lagi kesenian Bali-Hindu yang meliputi seni sastra, seni nyanyi, seni tari, seni ukir, seni rupa dan lukis dan bunyi-bunyian pun akan turut hilang. Sebaliknya bila kesenian Bali-Hindu itu hilang, mungkin pula agama Hindu-Bali itupun gaib juga. Meskipun apa yang dikemukakan oleh I Gusti Bagus Sugriwa secara realitas emperik belum meyakinkan, namun secara normatik memang beralasan, dalam pengertian ada kekhawatiran beliau akan “kepunahan tradisi seni Hindu”. Konsep berkesenian dalam masyarakat Bali berkaitan dengan nilai agama Hindu yang sering terjelma dalam karya-karya seni.
Keindahan Bali dapat mencakup aspek-aspek seperti yang dikemukakan oleh The Liang Gie (1976:35) yaitu keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual. Dua aspek keindahan terakhir menyangkut kaidah estetika yang bersumber pada agama Hindu. Keindahan moral menyangkut sikap dan perilaku masyarakat Bali berdasarkan ajaran agama Hindu, demikian juga  keindahan intelektuil tercermin pada makna gagasan yang menjadi isi dari setiap seni yang tercipta. Estetika adalah salah satu unsur yang penting dalam hidup manusia. Ia menggerakkan manusia ke arah konstruktif  dalam berbagai lapangan hidup, antara lain kepada rasa jengah yang berlandaskan Rajasika dan Satwika (Mantra, op. cit. p. 12).
Landasan Rajasika dan Satwika ini merupakan dasar-dasar yang meletakkan hubungan keindahan dengan esensi agama Hindu sebagai “roh” karya seni yang lahir dan berkembang di Bali. Kesenian Bali telah berkembang begitu pesatnya, seiring dengan perkembangan dunia pariwisata, maka dampak dari perkembangan pariwisata tersebut, muncullah kreativitas seni yang mencoba untuk memperindah pulau Bali itu sendiri. Salah satu seni yang turut memperindah tata ruang kota atau jalan di Bali adalah seni patung. Seni patung ini termasuk seni pahat, yang meliputi seni-seni patung dan relief (Widia,1991:1). Dalam pandangan Murdowo (1967:41) bahwa pulau Bali dipenuhi dengan ukiran dan patung-patung; di puri-puri, pura-pura di pinggir dan persimpangan jalan selalu ada patung-patung yang terukir sangat indah dan mempunyai gaya style yang tersifat bagi seni pahat Bali. Patung-patung yang menghiasi sudut-sudut kota atau persimpangan jalan, seperti patung Caturmuka di jantung kota Denpasar , Patung Kala Rau di Kota Gianyar,  Patung Pemuteran Mandara Giri di Kota Gianyar, Dewa Indra Menjaga Tirta Suci di Gianyar dan sebagainya. Patung-patung seperti itu sumber penciptaannya diambil dari mitologi Hindu.
Secara umum patung-patung yang menghiasi keindahan kota di Denpasar, baik di wilayah Kabupaten Badung maupun di Kodya dapat digolongkan menjadi 1) patung Kala; Catur Muka di perempatan Jln. Gajah Mada, 2)  Monumen Puputan Badung di Lapangan Puputan Badung, Monumen Anumerta Kapten Japa di Simpang Empat Sanur, Monumen Anumerta Kapten Cokorde Agung Tresna di Simpang Empat Gatot Subroto, dan Monumen Anumerta Mayor I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar di Simpang Empat Terminal Ubung. Monumen Anumerta I Gusti Ngurah Rai di  Pertigaan Tuban Nusa Dua, 3) patung Wayang/Dewa-Dewa; Pendeta di Suci, Gatotkacasraya Airport Tuban, Dewaruci di Simpang Siur Kuta, dan sebagainya. Secara khusus Denpasar pasti memiliki lebih dari 20 patung, patung-patung kecil, serta Monumen yang dapat dibagi menjadi 1) patung tradisional dan religius dari batu, 2) patung besar, modern dan realistik dari perunggu, 3) patung-patung kecil serta Monumen dari batu lunak atau semen kebanyakan dilapisi cat sebagai pelindung, dan antara lain karena ciri kerakyatannya disebut ‘seni semen’. Patung-patung tersebut ber-kaitan dengan:1) Dewa dan roh, 2) perjuangan kemerdekaan pada awal atau akhir abad ini, 3) tokoh-tokoh wayang, 4) kebijaksanaan pemerintah misalnya pemberantasan buta huruf dan 5) kegiatan sosial budaya yakni patung sebagai hiasan seperti yang sering kita lihat terbuat dari kayu untuk para wisatawan (Nas, 1996:14).
Tak kalah menariknya untuk disimak adalah Patung Dewa Ruci yang terletak di persimpangan Jalan Arteri Nusa Dua-Tanah Lot, penciptaan patung Dewa Ruci adalah merupakan transformasi dari teks-teks karya Sastra Jawa Kuna khususnya. Namun dalam perkembangan di lapangan terjadilah improvisasi bentuk patung, kehadiran tokoh  Bhima ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji, baik secara material maupun secara konseptual. Secara material adalah aspek estetika ragawi yang dapat dicerna oleh indria penglihatan, sedangkan aspek konseptual meliputi nilai-nilai tersirat yang ada pada Patung Dewa Ruci itu. Sebagai sebuah konsep visualisasi dari sebuah ajaran agama, maka Patung Dewa Ruci/Nawa Ruci sarat akan makna hidup dan kehidupan.

        









BAB 3

A. Kesimpulan
      Patung itu adalah simbol saja seharusnya manusia bisa memahami itu dengan tidak menyembah patung tersebut layaknya dewa maupun tuhan yang agung, pembersihan terhadap rohani agar kebudayaan terhadap menyembah berhala atau patung menjadi hilang dan tdak akan pernah ada lagi kasus yang terjadi penyembahan terhadap sebuah berhalla yang dianggap agung dan memiliki kekuasaan yang penuh. Patung dan kebudayaan sesungguhnya mengaitkan kedalam unsure seni dan tanggung jawab cerita, karena patung memiliki saksi bisu kehidupan yang selama ini belum diketahui oleh orang banyak
            Patung adalah syarat kebudayaan bukan alat penyembahan, namun setiap manusia keliru memahaminya, patung yang berada saat ini tidak lain adalah hasil karya tangan manusia yang mengekspresikan seninya.
            Tak ada budaya maka tidak ada patung, patung terbentuk dari kebudayaan terlebih dahulu, pembuatan patung bisa dipengaruhi oleh agama, adat, ras, dan kepercayaan.
            Setiap manusia membutuhkan seni estetika dalam hidupnya, tiada manusia yang ingin hilang dari kebudayaan, maka mereka membuat patung sebgai sumber sejarah agar mereka nanti di masa yang akan datang dapat dikenang dan diceritakan kembali oleh anak anak mereka.
            Sumber seni bisa menjadi salah satu sumber budaya , mulai dari seni patung contohnya, patung sebagai budaya adalah cerminan dari adanya kyakinan akan jati diri daerah budaya tersebut.
            Demikian penulisan makalah IBD ini, apabila ada saran dan kritik mohon bantuannya. Kesalahan dari penulis yang belum sempurna.