Buruh Ancam Kepung Balai Kota 3 Hari, Kantor Jokowi Dijaga Ketat
Demo
kali ini buruh membawa massa lebih besar
Kamis, 7 November 2013, 10:44 Desy
Afrianti, Septa Dinata
Demo
buruh (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews - Hari ini, Kamis 7 November 2013, buruh berencana
kembali berunjukrasa di depan Balai Kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka
Selatan, Jakarta Pusat. Dalam orasinya kemarin, para pentolan buruh berjanji
akan membawa massa yang lebih besar.
Husni Mubarok dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) memastikan bahwa buruh akan kembali menggelar unjuk rasa di kantor Gubernur Jokowi. "Kami akan demo lagi hari ini. Tapi kami belum bisa memastikan jam berapa," ujar Husni Mubarok saat dihubungi VIVAnews.
Namun, sampai pukul 10.00 WIB, Jalan Medan Merdeka Selatan di depan Balai Kota DKI Jakarta, masih sepi. Belum ada tanda-tanda adanya massa buruh.
Kepolisian yang terdiri dari gabungan Brimob dan Sabhara Polda Metro Jaya serta aparat Satuan Polisi Pamong Praja sudah berjaga sejak pagi tadi.
Dalam unjuk rasa kemarin, buruh manyampaikan bahwa mereka akan melaksanakan aksi selama tiga hari berturut-turut, sampai aspirasinya dipenuhi.
Buruh menuntut Jokowi merevisi keputusannya yang menetapkan upah minimum provinsi sebesar Rp2,4 juta sesuai dengan harapan mereka yakni Rp3,7 juta. Para pengusaha di DKI merasa keberatan dengan upah yang dituntut buruh itu, jumlah itu dinilai terlalu tinggi dan memberatkan perusahaan. Pemerintah DKI dan Dewan Pengupahan mencari jalan tengah, lalu ketemulah jumlah Rp2,4 juta itu.
Husni Mubarok dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) memastikan bahwa buruh akan kembali menggelar unjuk rasa di kantor Gubernur Jokowi. "Kami akan demo lagi hari ini. Tapi kami belum bisa memastikan jam berapa," ujar Husni Mubarok saat dihubungi VIVAnews.
Namun, sampai pukul 10.00 WIB, Jalan Medan Merdeka Selatan di depan Balai Kota DKI Jakarta, masih sepi. Belum ada tanda-tanda adanya massa buruh.
Kepolisian yang terdiri dari gabungan Brimob dan Sabhara Polda Metro Jaya serta aparat Satuan Polisi Pamong Praja sudah berjaga sejak pagi tadi.
Dalam unjuk rasa kemarin, buruh manyampaikan bahwa mereka akan melaksanakan aksi selama tiga hari berturut-turut, sampai aspirasinya dipenuhi.
Buruh menuntut Jokowi merevisi keputusannya yang menetapkan upah minimum provinsi sebesar Rp2,4 juta sesuai dengan harapan mereka yakni Rp3,7 juta. Para pengusaha di DKI merasa keberatan dengan upah yang dituntut buruh itu, jumlah itu dinilai terlalu tinggi dan memberatkan perusahaan. Pemerintah DKI dan Dewan Pengupahan mencari jalan tengah, lalu ketemulah jumlah Rp2,4 juta itu.
Analisa :
Hal mengenai kenaikan upah buruh pastinya
akan terus terjadi karena dampak ekonomi global yang selalu berubah-ubah,
kelayakan upah yang diberikan haruslah sesuai dengan hak yang diterima oleh
buruh, tidak harus besar namun dapat membuat hidup para buruh menjadi layak
dari sisi pendidikan , kesehatan dan social. Sebenarnya jaminan kesehatan
keluarga yang diberikan atau asuransi kesehatan itu sudah termasuk hitungan
untuk mensejahterakan para buruh di Indonesia.
Namun setiap pemikiran atas
kepuasaan manusia tidaklah pernah habis, manusia akan selalu dan terus meminta
upah yang lebih besar. Apabila satu kepala keluarga harus menghidupi ketiga
anaknya dan istrinya dengan upah 2,4 juta rasanya kurang bisa menutupi
kebutuhan sehari harinya, tidak usah meminta yang besar-besar dengan upah 3
juta saya rasa sudah cukup untuk menutupi kebutuhan asalkan para buruh
mempunyai pendapatan sampingan, banyak para buruh yang memutar otak dengan
menambah penghasilannya dengan berdagang dan berwirausaha kecil-kecilan,
menurut saya itu lebih kreatif ketimbang harus berdemo dengan mengeluarkan
energi dan dana yang lumayan besar.
Usaha kecil masyarakat bias
dijadikan sebagai jalan alternatif yang efisien, apalagi di negara ini yang
mayoritas sebagai konsumen yang selalu membutuhkan barang maupun jasa.
Hidup di tengah
hiruk pikuk metropolitan memang sulit dengan upah dibawah 3 juta, namun
sepandai-pandainya kita sebagai manusia yang dibekali akal pasti bisa bertahan
bahkan membuat usaha kecil yang akan menjadi besar. Langkah awal bisa
diterapkan dengan mengumpulkan dana untuk modal usaha kita, setelah itu kita
cocokan keinginan pasar dengan modal yang kita miliki, tentunya taraf
pendapatan akan naik menjadi lebih 50% dengan membuat usaha kecil yang
berkembang.
Banyak buruh yang hanya
menggantungkan pendapatannya dengan upah yang dia terima , padahal dia bisa
lebih mendapatkannya dengan memutar uang tersebut menjadi barang dagangan.
Bukan dibelanjakan barang barang mewah. Pengusaha – pengusaha di Indonesia saya
rasa sudah cukup kaya. Sebaiknya para pengusaha tidak menekan biaya produksi
yang membebankan pihak buruh. Belum lagi pajak yang ditanggungoleh buruh,
seharusnya pihak pengusaha menjadi lebih mengerti dan menimbang kembali
keputusan agar perindustrian di Indonesia ini kembali berjalan untuk bersaing
di dunia Internasional.
Dengan ancaman akan berdemo selama 3
hari berturut turut saya rasa akan merugikan banyak pihak, lebih baik bisa
dilakukan dengan bermusyawarah secara komunikatif dan terbuka, agar tidak
adanya kesalahpahaman nantinya. Bukankah keinginan untuk hidup sejahtera
diinginkan oleh semua orang? “Ya” . Namun tidak semua orang ingin berusaha
mengoptimalkannya. Pekerja yang pintar adalah bukan pekerja yang menunggu
mendapatkan penghasilan , tetapi membuat penghasilan yang datang kepada mereka.
Saya harap pemerintah bisa kembali membuat pertimbangan yang matang agar tidak
merugikan kedua pihak dan rakyat menjadi sejahtera dan mendapatkan haknya
sebagai warga negara dan pekerja yang baik di setiap pekerjaannya.
Indahnya hidup dengan upah yang
besar itu bukan sebagai jaminan, yang terpenting adalah bagaimana penghasilan
yang didapatkan mampu merubah diri orang tersebut menjadi lebih baik.
Berdemo itu boleh dilakukan di
negara ini, namun jangan sampai membuat kerusuhan atau kerusakan di mana pun,
nanti akan membuat banyak kerugian yang akhirnya pihak buruh menjadi disalahkan
kembali, apabila tidak mau disalahkan lebih baik berdemo dengan sehat dan
bersih , tidak ada campur tangan kepintingan pribadi dan seruan seruan
negatif. Kita bebas berpendapat bukan berarti bebas bertindak, karena negara
ini masih mempunyai norma dan adat yang harus dijunjung tinggi. Jangan sampai
terulang kembali tragedi tahun 1998 yang merupakan zona hitam ekonomi
Indonesia. Dengan semangat sejati para buruh saya yakin pendapatan maupun
kelayakan akan di dapatkan oleh buruh yang bersikap jujur dan rendah hati.
Saya kembali terangkan sebaiknya
dilakukan lagi musyawarah yang benar benar untuk membuat kedua belah pihak
menjadi tidak dirugikan atau di bebankan. Satu pikiran untuk membuat sejuta
kesejahteraan buruh di Indonesia.
"Buat pendapatanmu menjadi perubah
diri pribadi menjadi lebih baik sebelum meminta pendapatan yang lebih dari yang
sudah didapatkan."
(punto adi
pradana)