KATA
PENGANTAR
Puji syukur atas
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar yang memiliki
bahasan pokok mengenai “Perbandingan
kasus terhadadap mata kuliah Ilmu Budaya Dasar”.
Adapun maksud dan
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan
dan menyelesaikan materi mengenai pembahasan tentang Mempelajari kasus kasus
yang terjadi di masyarakat.
Dalam tulisan ini mampu membangkitkan kesadaran akan
mengenai pentingnya aneka budaya yang ada di masyarakat dan kebiasan
kebiasaannya. Tanpa melihat status dan kepentingan budaya diharapkan tugas
sekaligus tulisan ini mampu menarik banyak pembaca untuk menemukan isi dari
tulisan yang akan disajikan.
Depok, 24
November 2013
Penulis
Punto Adi Pradana
BAB
1
1.PENDAHULUAN
1.1
Tujuan
Adanya keanekaragaman budaya membuat kecirikhassan setiap daerah berbeda
beda. Saya akan membahas mengenai arti budaya dan patung patung maupun relief
relief yang sudah beredar di masyarakat pada umumnya. Setiap kali manusia
berjalan pastilah membutuhkan pembelajaran terlebih dahulu, tidak mungkin
sebuah patung dibuat tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Pastilah ada maksud
dan tujuan yang tersirat dari adanya nilai nilai magis dalam pembuatan patung.
Banyak seringkali patung yang sudah terbuat tidak tahu siapa yang membuatnya ,
tapi dengan karya orang tersebut seni patung sekian lama terus menambah indah
dan mempunyai cerita tersendiri. Fungsi patung memiliki beragam variasi seperti
memperindah ruangan maupun tempat, menegaskan cerita jaman kuno, bahkan sebagai
objek pemujaan yang tidak diketahui apa manfaatnya
1.2 Latar Belakang
Mula mula bentuk patung dari hal sederhana
seperti bentuk persegi , lingkaran dan oval, namun seiring perkembangan zaman
patung mengalami perubahan yang signifikan dalam pembuatannya, kini patung
sudah tersedia dalam bentuk manusia dengan berbagai type dan desain dan bentuk
binatang yang memiliki cerita magis tersendiri, sepertinya pengaruh pembuatan
patung tertular dari agama Buddha dan hindu . melihat dari arsitektur tempat
peribadatan kedua agama tersebut terlihat banyak patung patung dan relief yang
seakan akan mengartikan sesuatu. Tak lepas dariitu kepercayaan masyaraka
terhadap paham dinamisme membuat benda menjadi bahan persembahan yang agung.
Dengan kaata lain patung sebagai benda mati menjadi objek penyembahan. Entah
terpengaruh oleh budaya apakah yang membuat masyarakat dapat memuja sebuah
patung yang tidak memiliki kekuatan apapun.
BAB 2
2.
Patung dan Kebudayaan
2.1.Unsur patung
dalam Budaya
Patung atau Benda hias yang biasa dilihat memiliki beberapa unsure
tersendiri, yaitu unsure magis, keindahan, dan unsure seni.
Unsur
magis yaitu dimana patung dianggap sebagai benda sacral untuk pemujaan yang
tidak ada habisnya, setiap sekte biasanya memiliki simbolm patung yang
bervariasi, ketika ditanya apa kehebatan patung tersebut mereka menjawab itu
hanyalah jelmaan dari yang punya kuasa, entah apa arti dari jawaban mereka yang
pasti setiap patung yang terbentuk tidak memiliki kehebatan apapun itu hanyalah
sebuah benda mati yang tidak bisa melakukan apappun.
Tanpa adanya kendali patung bisa bisa
dijadikan sarana untuk menjadi sesat dan kafir, padahal nabi telah melarang
untuk menyembah berhala dari jaman jahiliyah silam, betapa hebatnya pengaruh
sebuah patung di dunia , setiap daerah biasanya mempunyai bentuk patung
tersendiri yang mengibar5atkan itu adalah jati diri daerah tersebut, padahal
saying sekali apabila patung dijadikan sebagai alat persembahan , patung itukan
hanyala sebuah seni tiga dimensi yang memperhatikan bentuk dan keindahaannya
saja, bukan patung yang harus disalahkan dalam hal ini, tetapi manusianya lah
yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah beredar di masyarakat umum.
Kemudian
patung sebgai unsure keindahan budaya, patung sebagai pemanis sekaligus sebagai
alat tambahan desain untuk eksterior maupun interior, setiap budaya dan setiap
zaman dapat dilihat dari seni patungnya yang dihasilkan, terlihat patung patung zaman dahulu tidak begitu bagus
seperti zaman sekarang. Bisa jadi karena patung tercipta untuk mengkritik
maupun untuk memperingati hari besar, contohnya adalah patung tugu tani yang
ada di Jakarta , patung tersebut mengisyarakatkan agar kita sebagai manusia
tidalak harus terus membangun gedung gedung tinggi yang mencakar langit tapi
juga memikirkan pertanian sebagai suber pangan manusia, dan keudian monas,
monas awalnya adalah bangunan tertinggi di Jakarta , monas bertujuan untuk
membuktikan simbolisasi Indonesia khususnya Jakarta, namun patung singa yang
berada di negara singapura itu memiliki arti tersendiri. Budaya manusia yang
ingin terus tampil baik membuat patung patung hasil karya manusia menjadi bagus
bagus bentuk dan keindahannya, patung adalah hasil karaya rasa cipta manusia
yang diwujudkan untuk sebagai sarana terapan dan keindahan dalam seni. Namun
banyak yang menggap patung tidak terlalu ada kaitannya dengan budaya, bahkan
budaya bisa terekam melalui adanya patung patung patung, contohnya adalah
patung patung atau relief yang berada pada candi Borobudur , dengan mengetahui
rel.ief dan patung tersebut kita menjadi tahu apa yang melatarbelakangi
pembuataan bangunan bersejarah itu melalui relief yang terters di dinding
bagunan dan patung patung yang berjejer di atas candi.
Menurut Koentjaraningrat
(1990:203-204) setiap kebudayaan suku bangsa di dunia memiliki tujuh
unsur kebudayaan yang universal yaitu: 1) bahasa, 2) Sistem pengetahuan 3)
organisasi sosial, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem
matapencaharian hidup 6) sistem religi, 7) kesenian. Kesenian adalah
merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang universal tersebut, oleh
karena itu seni atau kesenian merupakan produk dari sebuah kebudayaan dari
setiap suku atau bangsa di dunia. Untuk itu memahami sebuah fenomena kesenian
atau seni tidak bisa dipisah-kan dari latar belakang di mana seni itu lahir.
Untuk dapat mengerti menyelami
dan menilai usaha karya seni dari sesuatu bangsa dengan seksama, tidaklah cukup
hanya menganalisa bentuk-bentuk karya seninya saja, kesusastraannya, seni
suaranya, tari-tariannya dan seni rupanya. Pemahaman terhadap gaya hidup,
keyakinan kepercayaan dan struktur penghidupan dan kehidupan dari suatu
masyarakat adalah sendi-sendi yang sangat penting dalam penuangan bentuk karya
seninya dan dengan demiki-an dianggap sangat perlu untuk diselami dengan
penuh simpati dan secara tertib untuk dapat mengadakan interpretasi dan
peninjau-an yang tepat (Murdowo, 1967:18).
Bali salah satu dari suku
bangsa di Indonesia memiliki karakteristik seni dan budaya yang menarik. Oleh
karena itu Bali tetap menarik bagi wisatawan mancanegara untuk dikunjungi untuk
melihat kepaduan estetika budaya yang diilhami oleh sebuah frame yaitu
religiusitas Hinduisme. Berdasarkan hal tersebut Bali terkenal dengan berbagai
julukan seperti Pulau Sorga, Paradise created, Pulau
seribu pura, Pulau Pariwisata dan lain sebagainya. Berbicara mengenai seni
di Bali, karena hubungan agama Hindu dengan seni tak dapat dipisahkan, hal itu
dapat menumbuhkan rasa seni yang sangat mendalam dalam masyarakat dalam
berbagai bidang, ter-utama dalam bidang seni pahat, seni gamelan, seni lukis,
seni tari, seni hias, seni patung dan lain-lain (Mantra,1991:5).
Hal ini dipertegas lagi
oleh I Gusti Bagus Sugriwa (1952:22) bahwa kesenian Bali atau seni
budaya suku Bali-Hindu yang hidup bergolak sampai sekarang, pada hakikatnya
adalah anak atau cabang ranting dari agama Hindu Bali. Kesenian dengan agama
ini mempunyai hubungan yang amat erat pada umumnya tidak dapat dipisahkan satu
sama lainya. Tegasnya jika agama Hindu Bali itu musnah dari nusa Bali ini, tak
dapat dipungkiri lagi kesenian Bali-Hindu yang meliputi seni sastra, seni
nyanyi, seni tari, seni ukir, seni rupa dan lukis dan bunyi-bunyian pun akan
turut hilang. Sebaliknya bila kesenian Bali-Hindu itu hilang, mungkin pula
agama Hindu-Bali itupun gaib juga. Meskipun apa yang dikemukakan oleh I Gusti
Bagus Sugriwa secara realitas emperik belum meyakinkan, namun secara normatik
memang beralasan, dalam pengertian ada kekhawatiran beliau akan “kepunahan
tradisi seni Hindu”. Konsep berkesenian dalam masyarakat Bali berkaitan dengan
nilai agama Hindu yang sering terjelma dalam karya-karya seni.
Keindahan Bali dapat mencakup
aspek-aspek seperti yang dikemukakan oleh The Liang Gie (1976:35) yaitu keindahan
seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual. Dua aspek
keindahan terakhir menyangkut kaidah estetika yang bersumber pada agama Hindu.
Keindahan moral menyangkut sikap dan perilaku masyarakat Bali berdasarkan
ajaran agama Hindu, demikian juga keindahan intelektuil tercermin pada
makna gagasan yang menjadi isi dari setiap seni yang tercipta. Estetika adalah
salah satu unsur yang penting dalam hidup manusia. Ia menggerakkan manusia ke
arah konstruktif dalam berbagai lapangan hidup, antara lain kepada rasa jengah
yang berlandaskan Rajasika dan Satwika (Mantra, op.
cit. p. 12).
Landasan Rajasika dan Satwika
ini merupakan dasar-dasar yang meletakkan hubungan keindahan dengan esensi
agama Hindu sebagai “roh” karya seni yang lahir dan berkembang di Bali.
Kesenian Bali telah berkembang begitu pesatnya, seiring dengan perkembangan
dunia pariwisata, maka dampak dari perkembangan pariwisata tersebut, muncullah
kreativitas seni yang mencoba untuk memperindah pulau Bali itu sendiri. Salah satu
seni yang turut memperindah tata ruang kota atau jalan di Bali adalah seni
patung. Seni patung ini termasuk seni pahat, yang meliputi seni-seni patung dan
relief (Widia,1991:1). Dalam pandangan Murdowo (1967:41) bahwa pulau Bali
dipenuhi dengan ukiran dan patung-patung; di puri-puri, pura-pura di pinggir
dan persimpangan jalan selalu ada patung-patung yang terukir sangat indah dan
mempunyai gaya style yang tersifat bagi seni pahat Bali. Patung-patung
yang menghiasi sudut-sudut kota atau persimpangan jalan, seperti patung Caturmuka
di jantung kota Denpasar , Patung Kala Rau di Kota Gianyar,
Patung Pemuteran Mandara Giri di Kota Gianyar, Dewa Indra Menjaga
Tirta Suci di Gianyar dan sebagainya. Patung-patung seperti itu sumber
penciptaannya diambil dari mitologi Hindu.
Secara umum patung-patung yang
menghiasi keindahan kota di Denpasar, baik di wilayah Kabupaten Badung maupun
di Kodya dapat digolongkan menjadi 1) patung Kala; Catur Muka di
perempatan Jln. Gajah Mada, 2) Monumen Puputan Badung di Lapangan Puputan
Badung, Monumen Anumerta Kapten Japa di Simpang Empat Sanur, Monumen Anumerta
Kapten Cokorde Agung Tresna di Simpang Empat Gatot Subroto, dan Monumen
Anumerta Mayor I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar di Simpang Empat Terminal Ubung.
Monumen Anumerta I Gusti Ngurah Rai di Pertigaan Tuban Nusa Dua, 3)
patung Wayang/Dewa-Dewa; Pendeta di Suci, Gatotkacasraya
Airport Tuban, Dewaruci di Simpang Siur Kuta, dan sebagainya. Secara
khusus Denpasar pasti memiliki lebih dari 20 patung, patung-patung kecil, serta
Monumen yang dapat dibagi menjadi 1) patung tradisional dan religius dari batu,
2) patung besar, modern dan realistik dari perunggu, 3) patung-patung kecil
serta Monumen dari batu lunak atau semen kebanyakan dilapisi cat sebagai
pelindung, dan antara lain karena ciri kerakyatannya disebut ‘seni semen’.
Patung-patung tersebut ber-kaitan dengan:1) Dewa dan roh, 2) perjuangan
kemerdekaan pada awal atau akhir abad ini, 3) tokoh-tokoh wayang, 4)
kebijaksanaan pemerintah misalnya pemberantasan buta huruf dan 5) kegiatan
sosial budaya yakni patung sebagai hiasan seperti yang sering kita lihat
terbuat dari kayu untuk para wisatawan (Nas, 1996:14).
Tak kalah menariknya untuk
disimak adalah Patung Dewa Ruci yang terletak di persimpangan Jalan
Arteri Nusa Dua-Tanah Lot, penciptaan patung Dewa Ruci adalah merupakan
transformasi dari teks-teks karya Sastra Jawa Kuna khususnya. Namun dalam
perkembangan di lapangan terjadilah improvisasi bentuk patung, kehadiran
tokoh Bhima ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji, baik secara
material maupun secara konseptual. Secara material adalah aspek estetika ragawi
yang dapat dicerna oleh indria penglihatan, sedangkan aspek konseptual meliputi
nilai-nilai tersirat yang ada pada Patung Dewa Ruci itu. Sebagai sebuah konsep
visualisasi dari sebuah ajaran agama, maka Patung Dewa Ruci/Nawa Ruci sarat
akan makna hidup dan kehidupan.
BAB 3
A.
Kesimpulan
Patung itu adalah simbol saja seharusnya
manusia bisa memahami itu dengan tidak menyembah patung tersebut layaknya dewa
maupun tuhan yang agung, pembersihan terhadap rohani agar kebudayaan terhadap
menyembah berhala atau patung menjadi hilang dan tdak akan pernah ada lagi
kasus yang terjadi penyembahan terhadap sebuah berhalla yang dianggap agung dan
memiliki kekuasaan yang penuh. Patung dan kebudayaan sesungguhnya mengaitkan
kedalam unsure seni dan tanggung jawab cerita, karena patung memiliki saksi
bisu kehidupan yang selama ini belum diketahui oleh orang banyak
Patung adalah syarat kebudayaan bukan
alat penyembahan, namun setiap manusia keliru memahaminya, patung yang berada
saat ini tidak lain adalah hasil karya tangan manusia yang mengekspresikan
seninya.
Tak ada budaya maka tidak ada
patung, patung terbentuk dari kebudayaan terlebih dahulu, pembuatan patung bisa
dipengaruhi oleh agama, adat, ras, dan kepercayaan.
Setiap manusia membutuhkan seni
estetika dalam hidupnya, tiada manusia yang ingin hilang dari kebudayaan, maka
mereka membuat patung sebgai sumber sejarah agar mereka nanti di masa yang akan
datang dapat dikenang dan diceritakan kembali oleh anak anak mereka.
Sumber seni bisa menjadi salah satu
sumber budaya , mulai dari seni patung contohnya, patung sebagai budaya adalah
cerminan dari adanya kyakinan akan jati diri daerah budaya tersebut.
Demikian penulisan makalah IBD ini,
apabila ada saran dan kritik mohon bantuannya. Kesalahan dari penulis yang
belum sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar