.

Label

Edukasi (1) Softskill (24) Teknologi (1) tulisan (5)

Laman

Selasa, 07 Januari 2014

PENGARUH BUDAYA TERHADAP SENI PATUNG



KATA PENGANTAR

          Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar yang memiliki bahasan pokok mengenai “Perbandingan kasus terhadadap mata kuliah Ilmu Budaya Dasar”.
            Adapun  maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan dan menyelesaikan materi mengenai pembahasan tentang Mempelajari kasus kasus yang terjadi di masyarakat.
            Dalam tulisan ini mampu membangkitkan kesadaran akan mengenai pentingnya aneka budaya yang ada di masyarakat dan kebiasan kebiasaannya. Tanpa melihat status dan kepentingan budaya diharapkan tugas sekaligus tulisan ini mampu menarik banyak pembaca untuk menemukan isi dari tulisan yang akan disajikan.






Depok, 24 November 2013
                                                                                                                               Penulis

                                                                                                                            Punto Adi Pradana









BAB 1
1.PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
            Adanya keanekaragaman budaya membuat kecirikhassan setiap daerah berbeda beda. Saya akan membahas mengenai arti budaya dan patung patung maupun relief relief yang sudah beredar di masyarakat pada umumnya. Setiap kali manusia berjalan pastilah membutuhkan pembelajaran terlebih dahulu, tidak mungkin sebuah patung dibuat tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Pastilah ada maksud dan tujuan yang tersirat dari adanya nilai nilai magis dalam pembuatan patung. Banyak seringkali patung yang sudah terbuat tidak tahu siapa yang membuatnya , tapi dengan karya orang tersebut seni patung sekian lama terus menambah indah dan mempunyai cerita tersendiri. Fungsi patung memiliki beragam variasi seperti memperindah ruangan maupun tempat, menegaskan cerita jaman kuno, bahkan sebagai objek pemujaan yang tidak diketahui apa manfaatnya
1.2 Latar Belakang
            Mula mula bentuk patung dari hal sederhana seperti bentuk persegi , lingkaran dan oval, namun seiring perkembangan zaman patung mengalami perubahan yang signifikan dalam pembuatannya, kini patung sudah tersedia dalam bentuk manusia dengan berbagai type dan desain dan bentuk binatang yang memiliki cerita magis tersendiri, sepertinya pengaruh pembuatan patung tertular dari agama Buddha dan hindu . melihat dari arsitektur tempat peribadatan kedua agama tersebut terlihat banyak patung patung dan relief yang seakan akan mengartikan sesuatu. Tak lepas dariitu kepercayaan masyaraka terhadap paham dinamisme membuat benda menjadi bahan persembahan yang agung. Dengan kaata lain patung sebagai benda mati menjadi objek penyembahan. Entah terpengaruh oleh budaya apakah yang membuat masyarakat dapat memuja sebuah patung yang tidak memiliki kekuatan apapun.





BAB 2
2. Patung dan Kebudayaan
     2.1.Unsur patung dalam Budaya
      Patung atau Benda hias yang biasa dilihat memiliki beberapa unsure tersendiri, yaitu unsure magis, keindahan, dan unsure seni.
      Unsur magis yaitu dimana patung dianggap sebagai benda sacral untuk pemujaan yang tidak ada habisnya, setiap sekte biasanya memiliki simbolm patung yang bervariasi, ketika ditanya apa kehebatan patung tersebut mereka menjawab itu hanyalah jelmaan dari yang punya kuasa, entah apa arti dari jawaban mereka yang pasti setiap patung yang terbentuk tidak memiliki kehebatan apapun itu hanyalah sebuah benda mati yang tidak bisa melakukan apappun.
Tanpa adanya kendali patung bisa bisa dijadikan sarana untuk menjadi sesat dan kafir, padahal nabi telah melarang untuk menyembah berhala dari jaman jahiliyah silam, betapa hebatnya pengaruh sebuah patung di dunia , setiap daerah biasanya mempunyai bentuk patung tersendiri yang mengibar5atkan itu adalah jati diri daerah tersebut, padahal saying sekali apabila patung dijadikan sebagai alat persembahan , patung itukan hanyala sebuah seni tiga dimensi yang memperhatikan bentuk dan keindahaannya saja, bukan patung yang harus disalahkan dalam hal ini, tetapi manusianya lah yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah beredar di masyarakat umum.
      Kemudian patung sebgai unsure keindahan budaya, patung sebagai pemanis sekaligus sebagai alat tambahan desain untuk eksterior maupun interior, setiap budaya dan setiap zaman dapat dilihat dari seni patungnya yang dihasilkan, terlihat  patung patung zaman dahulu tidak begitu bagus seperti zaman sekarang. Bisa jadi karena patung tercipta untuk mengkritik maupun untuk memperingati hari besar, contohnya adalah patung tugu tani yang ada di Jakarta , patung tersebut mengisyarakatkan agar kita sebagai manusia tidalak harus terus membangun gedung gedung tinggi yang mencakar langit tapi juga memikirkan pertanian sebagai suber pangan manusia, dan keudian monas, monas awalnya adalah bangunan tertinggi di Jakarta , monas bertujuan untuk membuktikan simbolisasi Indonesia khususnya Jakarta, namun patung singa yang berada di negara singapura itu memiliki arti tersendiri. Budaya manusia yang ingin terus tampil baik membuat patung patung hasil karya manusia menjadi bagus bagus bentuk dan keindahannya, patung adalah hasil karaya rasa cipta manusia yang diwujudkan untuk sebagai sarana terapan dan keindahan dalam seni. Namun banyak yang menggap patung tidak terlalu ada kaitannya dengan budaya, bahkan budaya bisa terekam melalui adanya patung patung patung, contohnya adalah patung patung atau relief yang berada pada candi Borobudur , dengan mengetahui rel.ief dan patung tersebut kita menjadi tahu apa yang melatarbelakangi pembuataan bangunan bersejarah itu melalui relief yang terters di dinding bagunan dan patung patung yang berjejer di atas candi.
    Menurut Koentjaraningrat (1990:203-204) setiap kebudayaan suku bangsa di dunia memiliki  tujuh unsur kebudayaan yang universal yaitu: 1) bahasa, 2) Sistem pengetahuan 3) organisasi sosial, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem matapencaharian hidup 6) sistem religi, 7) kesenian.  Kesenian adalah merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan yang universal tersebut, oleh karena itu seni atau kesenian merupakan produk dari sebuah kebudayaan dari setiap suku atau bangsa di dunia. Untuk itu memahami sebuah fenomena kesenian atau seni tidak bisa dipisah-kan dari latar belakang di mana seni itu lahir.
Untuk dapat mengerti menyelami dan menilai usaha karya seni dari sesuatu bangsa dengan seksama, tidaklah cukup hanya menganalisa bentuk-bentuk karya seninya saja, kesusastraannya, seni suaranya, tari-tariannya dan seni rupanya. Pemahaman terhadap gaya hidup, keyakinan kepercayaan dan struktur penghidupan dan kehidupan dari suatu masyarakat adalah sendi-sendi yang sangat penting dalam penuangan bentuk karya seninya dan dengan demiki-an  dianggap sangat perlu untuk diselami dengan penuh simpati dan secara tertib untuk dapat mengadakan interpretasi dan peninjau-an yang tepat (Murdowo, 1967:18).
Bali  salah satu dari suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristik seni dan budaya yang menarik. Oleh karena itu Bali tetap menarik bagi wisatawan mancanegara untuk dikunjungi untuk melihat kepaduan estetika budaya yang diilhami oleh sebuah frame yaitu religiusitas Hinduisme. Berdasarkan hal tersebut Bali terkenal dengan berbagai julukan seperti Pulau Sorga, Paradise created, Pulau seribu pura, Pulau Pariwisata dan lain sebagainya. Berbicara mengenai seni di Bali, karena hubungan agama Hindu dengan seni tak dapat dipisahkan, hal itu dapat menumbuhkan rasa seni yang sangat mendalam dalam masyarakat dalam berbagai bidang, ter-utama dalam bidang seni pahat, seni gamelan, seni lukis, seni tari, seni hias, seni patung dan lain-lain (Mantra,1991:5).
Hal ini dipertegas lagi oleh   I Gusti Bagus Sugriwa (1952:22) bahwa kesenian Bali atau seni budaya suku Bali-Hindu yang hidup bergolak sampai sekarang, pada hakikatnya adalah anak atau cabang ranting dari agama Hindu Bali. Kesenian dengan agama ini mempunyai hubungan yang amat erat pada umumnya tidak dapat dipisahkan satu sama lainya. Tegasnya jika agama Hindu Bali itu musnah dari nusa Bali ini, tak dapat dipungkiri lagi kesenian Bali-Hindu yang meliputi seni sastra, seni nyanyi, seni tari, seni ukir, seni rupa dan lukis dan bunyi-bunyian pun akan turut hilang. Sebaliknya bila kesenian Bali-Hindu itu hilang, mungkin pula agama Hindu-Bali itupun gaib juga. Meskipun apa yang dikemukakan oleh I Gusti Bagus Sugriwa secara realitas emperik belum meyakinkan, namun secara normatik memang beralasan, dalam pengertian ada kekhawatiran beliau akan “kepunahan tradisi seni Hindu”. Konsep berkesenian dalam masyarakat Bali berkaitan dengan nilai agama Hindu yang sering terjelma dalam karya-karya seni.
Keindahan Bali dapat mencakup aspek-aspek seperti yang dikemukakan oleh The Liang Gie (1976:35) yaitu keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual. Dua aspek keindahan terakhir menyangkut kaidah estetika yang bersumber pada agama Hindu. Keindahan moral menyangkut sikap dan perilaku masyarakat Bali berdasarkan ajaran agama Hindu, demikian juga  keindahan intelektuil tercermin pada makna gagasan yang menjadi isi dari setiap seni yang tercipta. Estetika adalah salah satu unsur yang penting dalam hidup manusia. Ia menggerakkan manusia ke arah konstruktif  dalam berbagai lapangan hidup, antara lain kepada rasa jengah yang berlandaskan Rajasika dan Satwika (Mantra, op. cit. p. 12).
Landasan Rajasika dan Satwika ini merupakan dasar-dasar yang meletakkan hubungan keindahan dengan esensi agama Hindu sebagai “roh” karya seni yang lahir dan berkembang di Bali. Kesenian Bali telah berkembang begitu pesatnya, seiring dengan perkembangan dunia pariwisata, maka dampak dari perkembangan pariwisata tersebut, muncullah kreativitas seni yang mencoba untuk memperindah pulau Bali itu sendiri. Salah satu seni yang turut memperindah tata ruang kota atau jalan di Bali adalah seni patung. Seni patung ini termasuk seni pahat, yang meliputi seni-seni patung dan relief (Widia,1991:1). Dalam pandangan Murdowo (1967:41) bahwa pulau Bali dipenuhi dengan ukiran dan patung-patung; di puri-puri, pura-pura di pinggir dan persimpangan jalan selalu ada patung-patung yang terukir sangat indah dan mempunyai gaya style yang tersifat bagi seni pahat Bali. Patung-patung yang menghiasi sudut-sudut kota atau persimpangan jalan, seperti patung Caturmuka di jantung kota Denpasar , Patung Kala Rau di Kota Gianyar,  Patung Pemuteran Mandara Giri di Kota Gianyar, Dewa Indra Menjaga Tirta Suci di Gianyar dan sebagainya. Patung-patung seperti itu sumber penciptaannya diambil dari mitologi Hindu.
Secara umum patung-patung yang menghiasi keindahan kota di Denpasar, baik di wilayah Kabupaten Badung maupun di Kodya dapat digolongkan menjadi 1) patung Kala; Catur Muka di perempatan Jln. Gajah Mada, 2)  Monumen Puputan Badung di Lapangan Puputan Badung, Monumen Anumerta Kapten Japa di Simpang Empat Sanur, Monumen Anumerta Kapten Cokorde Agung Tresna di Simpang Empat Gatot Subroto, dan Monumen Anumerta Mayor I Gusti Ngurah Bagus Sugianyar di Simpang Empat Terminal Ubung. Monumen Anumerta I Gusti Ngurah Rai di  Pertigaan Tuban Nusa Dua, 3) patung Wayang/Dewa-Dewa; Pendeta di Suci, Gatotkacasraya Airport Tuban, Dewaruci di Simpang Siur Kuta, dan sebagainya. Secara khusus Denpasar pasti memiliki lebih dari 20 patung, patung-patung kecil, serta Monumen yang dapat dibagi menjadi 1) patung tradisional dan religius dari batu, 2) patung besar, modern dan realistik dari perunggu, 3) patung-patung kecil serta Monumen dari batu lunak atau semen kebanyakan dilapisi cat sebagai pelindung, dan antara lain karena ciri kerakyatannya disebut ‘seni semen’. Patung-patung tersebut ber-kaitan dengan:1) Dewa dan roh, 2) perjuangan kemerdekaan pada awal atau akhir abad ini, 3) tokoh-tokoh wayang, 4) kebijaksanaan pemerintah misalnya pemberantasan buta huruf dan 5) kegiatan sosial budaya yakni patung sebagai hiasan seperti yang sering kita lihat terbuat dari kayu untuk para wisatawan (Nas, 1996:14).
Tak kalah menariknya untuk disimak adalah Patung Dewa Ruci yang terletak di persimpangan Jalan Arteri Nusa Dua-Tanah Lot, penciptaan patung Dewa Ruci adalah merupakan transformasi dari teks-teks karya Sastra Jawa Kuna khususnya. Namun dalam perkembangan di lapangan terjadilah improvisasi bentuk patung, kehadiran tokoh  Bhima ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji, baik secara material maupun secara konseptual. Secara material adalah aspek estetika ragawi yang dapat dicerna oleh indria penglihatan, sedangkan aspek konseptual meliputi nilai-nilai tersirat yang ada pada Patung Dewa Ruci itu. Sebagai sebuah konsep visualisasi dari sebuah ajaran agama, maka Patung Dewa Ruci/Nawa Ruci sarat akan makna hidup dan kehidupan.

        









BAB 3

A. Kesimpulan
      Patung itu adalah simbol saja seharusnya manusia bisa memahami itu dengan tidak menyembah patung tersebut layaknya dewa maupun tuhan yang agung, pembersihan terhadap rohani agar kebudayaan terhadap menyembah berhala atau patung menjadi hilang dan tdak akan pernah ada lagi kasus yang terjadi penyembahan terhadap sebuah berhalla yang dianggap agung dan memiliki kekuasaan yang penuh. Patung dan kebudayaan sesungguhnya mengaitkan kedalam unsure seni dan tanggung jawab cerita, karena patung memiliki saksi bisu kehidupan yang selama ini belum diketahui oleh orang banyak
            Patung adalah syarat kebudayaan bukan alat penyembahan, namun setiap manusia keliru memahaminya, patung yang berada saat ini tidak lain adalah hasil karya tangan manusia yang mengekspresikan seninya.
            Tak ada budaya maka tidak ada patung, patung terbentuk dari kebudayaan terlebih dahulu, pembuatan patung bisa dipengaruhi oleh agama, adat, ras, dan kepercayaan.
            Setiap manusia membutuhkan seni estetika dalam hidupnya, tiada manusia yang ingin hilang dari kebudayaan, maka mereka membuat patung sebgai sumber sejarah agar mereka nanti di masa yang akan datang dapat dikenang dan diceritakan kembali oleh anak anak mereka.
            Sumber seni bisa menjadi salah satu sumber budaya , mulai dari seni patung contohnya, patung sebagai budaya adalah cerminan dari adanya kyakinan akan jati diri daerah budaya tersebut.
            Demikian penulisan makalah IBD ini, apabila ada saran dan kritik mohon bantuannya. Kesalahan dari penulis yang belum sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar